Sinar matahari yang begitu hangat menembus celah-celah
jendela kelas. Suasana tenang menyelimuti ruang kelas pada pagi itu.
Hanya suara Bu Mira dan bunyi detik jam yang terdengar. Jari-jemari Bu
Mira dengan pelan menunjuk angka-angka yang tertulis rapi di papan
putih, sembari menjelaskan di depan para murid. Angka demi angka
terpampang dengan rumus yang tidak disukai Lisa. Untuk membuang
kejenuhannya, diraihnya ponsel dari saku, dan memasang headset di kedua
telinganya. Lisa mulai memutar lagu favoritnya tanpa menghiraukan
pelajaran pagi itu.
Akhirnya, bel istirahat pun terdengar, namun Lisa tetap terpaku duduk
di bangkunya. Ia masih asyik mendengarkan lagu. “Hey!!” Tata da Loly
mengagetkan Lisa dari belakang. Sontak, Lisa kaget dan segera melepas
headset dari kedua telinga. “Ah! Kalian mah, cuma bisa ngagetin aja. Ayo
deh, ke kantin sekarang. Gue udah laper banget nih..” gerutu Lisa
sembari meletakkan ponsel dan headsetnya ke dalam laci pulsa.
Mereka bertiga pergi melangkahkan kaki menuju kantin. Tak jauh
berbeda dengan biasanya, setiba di kantin Lisa dan kedua temannya itu
selalu menerobos keramaian kantin. Tak peduli siapa-pun disitu.
Keegoisan mereka sudah menjadi kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan.
Ketika hendak memesan makanan, di kantin Mbak Lia. Tiba-tiba “Crattt”
tanpa sengaja Rere menyenggol Nava hingga minumannya sedikit tumpah ke
baju Lisa yang pada saat itu tengah berada di samping Nava.
“Aaaaaaaa!!” teriak Lisa tanpa memedulikan keramaian kantin.
Lisa segera menyeret Rere dan Nava hingga menjauh dari kerumunan
anak-anak di kantin. Lisa membentak Nava dan Rere penuh rasa kesal.
“Woy! Lo tuh punya mata nggak sih? Jalan aja pake numpahin minuman ke
gue. Pokoknya tanggung jawab. Gue nggak mau tau” kata Lisa sambil
menarik rambut Rere. “Lepasin Sa, tolong. Maafin aku, aku nggak
sengaja.” jawab Rere terbata-bata
“Alah! Ngomongnya aja nggak sengaja.” Ujar Tata seraya menjorokkan
pundak Rere. “Ihh, Tata.. Sumpah, aku beneran nggak sengaja. Lagian
kotornya nggak terlalu keliatan kok” lanjut Rere. “Heh, bener-bener
nggak sengaja, tau! Kalian tau sendiri kan, keadaan kantin tuh gimana?
Ini sih cuma kena sedikit aja. Kalian mah lebay, gini aja
diheboh-hebohin” ucap Nava membela sahabatnya, Rere.
“Eh Rere! Tunggu balesan gue nanti.” gerutu Lisa sembari meninggalkan kantin.
Hari demi hari, Rere lewati dengan penuh cemoohan dari Lisa. Hingga pada suatu hari, Rere berhasil menemukan dompet Lisa.
Disaat jam istirahat, Lisa menemui Rere dan Nava di kantin.
“Bukankah dari kemarin aku dibully abis-abisan sama Lisa? Apa maksud Lisa kemari?” batin Rere penuh tanya.
“Re, makasih banyak ya.. Udah ngembaliin dompet gue, barusan gue ke
ruang BK. Kata Bu Sari, lo yang nemuin dompet gue. Iya kan? Ternyata lo
orangnya baik banget, jujur, sederhana, sopan. Udah gitu, pinter lagi!
Maafin gue ya, Re? Selama ini, gue malah nyiksa elo cuma karena hal
sepele. Sepel banget. Sumpah deh, sekarang gue nyesel banget” ujar Lisa
sembari duduk di samping Rere. “Eh iya, hampir aja gue lupa. Gue kan
udah janji tuh, bakal kasih ini buat siapa aja yang berhasil nemuin
dompet gue” ketus Lisa sembari menyerahkan tiga lembar uang seratus
ribuan. Rere hanya menggeleng senyum. “Angelisa.. Sebelum kamu minta
maaf juga udah aku maafin” jawab Rere, “Eh, aku nggak mengharapkan uang
itu. Sama skali! Sebelumnya, aku malah nggak tau soal perjanjianmu itu”
lanjut Rere.
Sejak saat itulah, Lisa kerap bermain bersama Rere dan Nava. Lisa
banyak belajar dari kisah hidup Rere yang sangat sederhana dan bermakna.
Hingga timbul kata “persahabatan” yang semakin mengikat hubungan
kekerabatan mereka.
Nava dan Rere sangat berarti dalam perubahan gaya hidup Lisa. Terlebih
kantin kecil milik Mbak Lia menjadi saksi bagi peristiwa-peristiwa
adanya persahabatan yang timbul karena hal sepele, dan tak akan terduga
sebelumnya.